Senin, 13 September 2010

TIPS MENGHINDARI HIPNOTIS

Berikut ini petunjuk untuk menghindari dan mengatasi kejahatan Hipnotis atau “gendam” :

1. Jangan membiarkan pikiran kosong ketika berada di daerah umum. Pikiran kosong dapat mengakibatkan gerbang telepathic terbuka, sehingga pihak lain dapat dengan mudah menyampaikan pesan secara telepathic.

2. Waspadalah jika tiba-tiba timbul rasa kantuk yang tidak wajar, ada kemungkinan bahwa seseorang yang bermaksud negatif sedang melakukan “telepathic forcing”.

3. Bagi mereka yang memiliki kebiasaan “latah”, sebaiknya jangan bepergian ke tempat umum tanpa teman. Mereka yang mempunyai kebiasaan “latah” cenderung memiliki gerbang bawah sadar yang mudah dibuka paksa dengan bantuan kejutan (Shock Induction). Hal yang sama juga berlaku bagi mereka yang mudah terkejut.

4. Jangan mudah panik jika tiba-tiba ada beberapa orang yang tidak dikenal mengerumuni anda untuk suatu alasan yang tidak jelas. Sekali jangan mudah panik ! Karena rasa panik akan mempermudah terbukanya gerbang bawah sadar anda!

5. Jangan mudah panik jika tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu anda ! Usahakan agar pikiran dan panca indera anda tetap aktif ke seluruh lingkungan ! Jangan terfokus pada ucapan-ucapan orang yang menepuk anda ! Segera berpindahlah ke daerah yang lebih ramai !

6. Jika secara tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, dada anda terasa sesak, dan diikuti dengan perut agak mual, dan kepala sedikit pusing, waspadalah karena mungkin ada seseorang tengah mengerahkan energi gendam ! Segera lakukan “grounding”, yaitu meniatkan membuang seluruh energi negatif ke bumi (cukup visualisasi).

7. Jika terjadi hal-hal yang mencurigakan, segera sibukkan pikiran anda, agar tetap berada di frekwensi yang mengakibatkan efek Hipnotis tidak dapat bekerja ! Antara lain dengan : berdoa dalam hati, menyanyi dalam hati, atau memikirkan hal-hal yang berat !

8. Jika ternyata anda mulai merasa memasuki suatu “kesadaran berbeda” dari biasanya, mungkin anda sudah mulai terpengaruh oleh Hipnotis. Jika anda merasakan hal ini, maka segera niatkan dalam hati : “Dalam 3 hitungan, saya akan kembali sadar dan normal sepenuhnya ….”, kemudian segera hitung dalam hati : “Satu …, dua, … tiga”.

9.. Akhirnya, tanamkan terus menerus di dalam diri anda, bahwa Hipnotis tidak akan bekerja bagi mereka yang menolaknya ! Hal ini juga berlaku untuk ilmu gendam

Kisah Renungan

Oleh: Fandy Hutari

Sepasang suami istri menangisi mayat perempuan tua di antara timbunan sampah. Mereka tak menyangka, setelah menyesalkan perbuatannya dan mencari ke mana-mana, akhirnya orang tua dan mertua mereka sudah tak bernyawa di tempat yang sangat tidak layak: timbunan sampah. Sungguh mereka menyesali semua perbuatannya...

***

Malam sudah sangat larut. Sore tadi hujan baru saja berhenti setelah seharian turun lebat. Menyisakan malam yang begitu lembap. Angin yang mendesis menusuk-nusuk tubuh ringkih yang dibungkus kulit keriput nenek Mardiyem. Tulang belulangnya yang telah rapuh dimakan usia, dipaksa melawan kebekuan malam ini untuk bertahan hidup. Demi sesuap nasi dan seteguk air. Di saat orang-orang sudah terlelap, dia masih terjaga. Nenek Mardiyem masih mengais botol dan gelas plastik bekas di selokan, trotoar, hingga di gang-gang kecil yang digenangi air hujan. Lumayan, sepanjang hari ini barang-barang yang dianggap kebanyakan orang tidak berguna itu telah terkumpul satu karung beras penuh. Karung beras yang digembol di punggung bungkuknya ke mana-mana. Dia memperlakukan karung beras itu ibarat menggendong anak kecil. Di mata dia, barang-barang ini adalah emas. Adalah uang. Adalah hidup...

***

Pukul 11.20 WIB, waktunya untuk pulang. Dia berjalan gontai di trotoar. Memanggul derita seorang diri. Langkahnya dipayungi lampu-lampu jalanan yang reduphidup dan mati bergantian. Sudah terasa cukup baginya sekarung penuh berisi botol dan gelas plastik di punggungnya. Malam ini, jalanan sepi belaka. Tak ada seorang pun yang melintas di trotoar yang dia jejaki. Hanya ada satudua kendaraan saja yang melintas. Memecah genangan air di jalanan. Nenek Mardiyem pun kecipratan air yang dipecah roda mobil. Tak ada umpatan dari bibirnya. Dia tak bakat mengumpat orang. Boleh dibilang, dia seorang nenek yang pandai membungkus kepedihannya sendiri di dalam senyum.

Lantai pelataran toko yang sudah tutup, menyambut kelelahannya seharian bekerja di jalanan. Tanpa perasaan jijik, dia merelakan tubuhnya tidur di ubin yang kotor. Hanya beralas kardus bekas. Karung beras yang berisi barang-barang pulungannya, dia senderkan di pintu garasi toko yang berwarna hijau lumut. Bau busuk yang menyeruak dari tempat sampah di sebelahnya, tak pernah lagi tercium oleh hidungnya. Dia sudah kebal dengan bau-bauan itu. Sekebal dia menjalani kehidupan yang terasa berat sekali bagi kebanyakan orang.

Ya, di pelataran toko inilah dia tidur dan berteduh. Pelataran toko ini sudah menjadi semacam rumah bagi dia. Ini merupakan toko beras milik Pak Sudirto. Pak Sudirto sendiri tinggal bersama keluarganya di lantai dua toko ini. Dua bulan lalu, Pak Sudirto mengizinkan nenek Mardiyem untuk berteduh dan melepas lelah di pelataran tokonya. Mungkin dalam pikiran Pak Sudirto, nenek Mardiyem juga bisa turut menjaga toko miliknya. Atau istilah kasarnya jadi anjing penjaga. Tentu saja di dalam toko ini tertimbun beras berkarung-karung, karena ini memang toko beras. Tapi, di luar ada seorang nenek yang setiap hari berjuang demi beras yang tak seberapa. Ironis. Sebelum ‘menetap’ di sini, nenek Mardiyem tidur di sembarang tempat. Dia juga pernah punya rumah gubuk berdinding kardus bekas di kolong jembatan, sebelum digusur Satpol PP.

Sebetulnya, dia tak harus berkelana menggelandang seperti ini. Karena dahulu dia tinggal serumah bersama anak perempuannya, Martini, yang menikah dengan seorang direktur di pabrik kondom bernama Sudrajat. Menantunya ini bisa dibilang orang terpandang di lingkungan tempatnya tinggal. Rumahnya pun bak istana. Namun, entah setan apa yang merasuk tubuh menantunya. Suatu hari, menantu dan anaknya merencanakan untuk memasukkan nenek Mardiyem ke panti jompo. Tapi, niat itu didengar oleh nenek Mardiyem. Dan, akhirnya dia membuat keputusan untuk minggat dari rumah menantu dan anak tunggalnya. Meninggalkan mereka kurang lebih satu tahun lalu. Hidup bagai sampan yang terombang-ambing sendirian di sini. Di jalanan! Nenek Mardiyem juga termasuk perempuan yang terus-menerus gagal membina rumah tangga. Dia tercatat kawin-cerai sebanyak lima kali. Dari pernikahan-pernikahannya itu, dia memiliki tujuh orang anak, termasuk Martini. Tapi, tak seorang pun yang peduli dengan nenek Mardiyem. Hanya Martini yang bersedia ‘menampungnya’.

***

Sinar matahari mengganggu tidur nenek Mardiyem. Silau. Matanya seketika membuka. Hari telah kembali pagi. Perlahan, dia bangun dan duduk di lantai pelataran toko ini. Pintu garasi toko pun dibuka Pak Sudirto dari dalam.

“Baru bangun, nek?” kata Pak Sudirto. Pertanyaan ini selalu dia lontarkan setiap pagi kepada nenek Mardiyem.
“Iya...” jawab nenek Mardiyem. Jawaban yang selalu berulang setiap pagi, seperti kaset yang diputar terus menerus.

Lalu, Pak Sudirto kembali masuk ke tokonya. Menyapu di dalam. Pagi ini, pukul 07.00 WIB, saat anak-anak berangkat ke sekolah dan para pekerja bergegas ke kantornya masing-masing, nenek Mardiyem pun berkemas. Bukan ke sekolah atau ke kantor, tapi ke pengepul barang-barang hasil pulungannya kemarin. Dia bersiap. Merapikan lagi tumpukan botol dan gelas di dalam karung beras.

“Siap-siap nih, nek?” ujar istri Pak Sudirto yang berjalan dari dalam toko.
“Iya...” jawab nenek Mardiyem lirih.

Hampir tak terdengar suaranya. Tersamar dengan rengekan klakson angkot di pinggir jalan yang menunggu penumpang. Dia lalu menggembol kembali karung beras yang berisi barang pulungannya, dan pamit kepada Pak Sudirto dan istrinya.

“Pak, Bu...saya ke Mbak Darmi dulu ya...” pamit nenek Mardiyem.
“Oh, iya nek. Hati-hati...” jawab Pak Sudirto yang masih memegang sapu. Serta anggukkan kecil dari istrinya.

Lalu, dengan langkahnya yang lamban, nenek Mardiyem pun menyeberang jalan. Siklus kehidupan yang setiap pagi dia jalani. Pergi ke tempat pengepul barang-barang loak. Ke rumah gubuk sang pengepul, Mbak Darmi, di pinggiran kali yang sudah kotor oleh sampah yang mengambang juga bau busuk yang menyengat. Jaraknya sekitar dua ratus lima puluh meteran dari toko Pak Sudirto. Jarak yang cukup lumayan bagi nenek renta berusia enam puluh tahun ini.

Sesampainya di rumah Mbak Darmi, isi karung beras pun dikeluarkan semuanya. Kemudian, Mbak Darmi menghitung berapa uang yang pantas diberikan kepada nenek Mardiyem untuk hasil jerih payahnya seharian kemarin. Nenek Mardiyem hanya pasrah menunggu uang dari Mbak Darmi. Pasrah. Selalu pasrah setiap hari...

“Ini, nek. Dua puluh lima ribu untuk semuanya...” ujar Mbak Darmi sambil menyerahkan uang dua puluh lima ribu pecahan lima ribu.
“Iya, makasih Mbak Darmi...” ucap nenek Mardiyem menerima uang itu ikhlas. Matanya berkaca-kaca. Seolah-olah uang ini sudah dapat menggantikan peluhnya kemarin.

Dari sini, nenek Mardiyem kembali mengambil karung berasnya yang telah kosong melompong. Dan, dia akan kembali ke rutinitasnya: keliling mengumpulkan botol dan gelas plastik bekas sampai karung beras ini penuh.

***

Di pinggir jalan, nenek Mardiyem memunguti lagi botol dan gelas plastik bekas. Siang ini cuaca sangat terik. Memang sekarang cuaca tak lagi bisa ditebak. Hujan dan panas tak menentu datangnya. Keringat yang mengucur dari pipi keriputnya tampak jelas. Sesekali dia mengusapi sendiri keringat itu dengan lengan bajunya.

Sewaktu menyusuri trotoar jalan, mata nenek Mardiyem tertumbuk pada sebuah plang imbauan di pertigaan lampu merah. “Mengemis dan memberi sedekah kepada pengemis akan didenda maksimal 20 juta atau kurungan maksimal 60 hari.” Begitulah tulisan di plang itu. Lalu, dia berhenti sejenak. Duduk di trotoar jalan. Matanya yang tak lagi setajam elang, mengamati aktivitas orang-orang di sekitarnya. Lampu lalu lintas menyala merah. Mobil dan motor di hadapannya berhenti. Kemudian, entah dari mana, anak-anak kecil berbaju compang-camping mendekati mobil dan motor yang berhenti itu. Ada juga ibu-ibu yang menggendong bayi. Tangan mereka menjulur menengadah ke setiap pengemudi. Ada yang memberi. Ada pula yang mengacuhkan. Memorinya langsung berbalik ke beberapa tahun silam. Dia ingat, waktu itu menantunya pernah meludahi anak jalanan yang meminta-minta di lampu merah. Dalam diam, di kepalanya muncul sebuah pertanyaan, mengapa di kota ini ada peraturan yang mendenda dan memenjarakan siapa saja yang memberi sedekah kepada pengemis? Aneh. Bukankah seharusnya pemerintah memerhatikan mereka? Apakah ini usaha pengalihan atas ketidakmampuan pemerintah mengentaskan kemiskinan? Pikiran kritisnya menyeruak. Pikiran seorang nenek renta, ah siapa yang peduli...

“Nek...nenek Iyem!” tiba-tiba ada seorang perempuan memanggilnya dari arah belakang.

Dia menoleh.

“Iya...” katanya, membalas panggilan perempuan itu.

Yang ada di pikirannya tadi, disangka yang memanggil adalah anak perempuannya. Ternyata dugaannya salah. Perempuan yang memanggilnya juga pemulung. Satu profesi dengan dirinya. Perempuan yang berusia empat puluh tahunan ini bernama Ibu Endang. Sudah lima tahun dia menjalani profesi memulung setelah dicerai suaminya yang kawin lagi. Ibu Endang punya dua anak yang masih kecil-kecil. Dia sedikit beruntung daripada nenek Mardiyem. Ibu Endang tinggal di rumah petak semipermanen di bantaran kali bersama dua anaknya.

“Wah, nenek ke mana aja? Saya cari ke mana-mana kemarin...” kata Ibu Endang yang terbit senyum di bibirnya.
“Ada. Saya memulung di sana...” jawab nenek Mardiyem menunjuk sebuah jalan di seberang mereka.

Nenek Mardiyem lalu berdiri dari duduknya. Berusaha sopan kepada orang yang mengajaknya ngobrol.

Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

“Nenek tau nggak. Di sana, ada TPA[1] baru. Kita mulung di sana aja, gimana?” cerocos Ibu Endang masih sumringah.

Wajahnya ibarat orang yang habis mendapatkan undian rumah satu milyar. Semangat menggebu-gebu.

“Oh, gitu. Tapi, besok aja ya neng. Saya cape banget. Mau memulung dekat-dekat sini aja,” balas nenek Mardiyem sambil mengusapi lagi keringatnya yang mengucur.
“Oh, ya udah. Besok bareng aja, nek. Saya tungguin nenek di sini ya,” ujar Ibu Endang.
“Iya...Besok aja. Saya mau jalan lagi neng, mari...” pamit nenek Mardiyem dengan nada suara yang lesu.

Tenaganya seperti sangat terkuras memulung dari pagi sampai siang bolong. Guratan wajahnya tak bisa dibohongi. Nenek Mardiyem memang benar-benar butuh istirahat. Tapi, lagi-lagi demi urusan perut, dia berjalan lagi untuk memunguti botol dan gelas plastik. Meninggalkan Ibu Endang di sini sendirian. Ibu Endang pun tak lama berlalu. Menuju TPA dengan hati ceria...

***

Sewaktu menikmati makan malamnya, nasi bungkus dengan lauk satu tempe goreng,nenek Mardiyem mendengar adzan Isya yang menggema dari masjid di gang pinggir jalan. Bulu kuduknya merinding setengah mati. Tak seperti biasanya. Dia teringat, sudah lama dia meninggalkan Tuhan. Sudah lama dia tidak bersimpuh berdoa sampai berlinang air mata. Sudah lama dia tidak menjalani shalat. Nasi bungkusnya langsung dia lahap cepat-cepat. Belum habis lahapannya, seorang anak jalanan dengan ingus yang meleleh mendekatinya.

“Nek...minta nasinya, nek...” kata bocah ingusan itu dengan wajah memelas.
“Ini buat kamu. Kamu lapar ya? Ini, nenek sisakan untuk kamu makan...”ujar nenek Mardiyem seraya memberikan nasi bungkus yang tinggal setengahnya, serta tempe goreng yang juga tinggal setengah.
“Wah, makasih, nek!” sambut bocah itu gembira menerima nasi bungkus dari nenek Mardiyem.

Nenek Mardiyem hanya tersenyum. Mengusap rambut anak jalanan itu, dan segera melangkah ke sebuah masjid di gang dekat pertigaan lampu merah. Sebelum pulang, dia ingin menyampaikan keluh kesahnya kepada Tuhan. Menumpahkan seluruh unek-uneknya selama ini. Sebenarnya, tak jauh dari toko Pak Sudirto ada masjid megah yang berdiri kokoh. Konon kubahnya dari emas, dan dindingnya dari marmer pilihan. Tapi, dia hanya sekali dan terakhir berkunjung untuk shalat di sana. Ini disebabkan karena nenek Mardiyem diusir oleh penjaga masjid itu. Dia disangka tukang mencuri sandal masjid. Ah, betapa orang-orang sekarang picik. Kenapa lantaran pakaian yang kumal ini kita langsung dituduh garong. Dia juga pernah menyaksikan orang-orang berjubah putih menyerang sebuah rumah yang diduga tempat judi. Dia heran, mengapa mereka berbuat kekerasan? Mengapa tidak dibicarakn dulu baik-baik? Pikirnya waktu itu.

Di masjid ini, dia segera berwudhu, dan shalat di teras masjid. Memisahkan diri dengan jamaah lain. Bukan apa-apa, nenek Mardiyem takut mereka menjauhinya lagi, atau bahkan mengusirnya seperti yang pernah dia alami sendiri di masjid dekat toko Pak Sudirto. Selesai shalat, jamaah bubar. Mata-mata mereka memerhatikan nenek Mardiyem dengan pakaian yang lusuh masih duduk bersimpuh, tanpa mukenah. Mata-mata mereka, ya, mata-mata itu seperti menelanjanginya bulat-bulat. Tapi, nenek Mardiyem tak ambil peduli. Dia sudah terbiasa dengan tatapan-tatapan sinis orang-orang di sekitarnya. Nenek Mardiyem masih duduk bersimpuh. Kedua tangannya diangkat dan berdoa penuh hikmat. Seketika, tanpa dia sadari, butir-butir air matanya menetes jatuh ke lantai. Dia berdoa, semoga anak dan menantunya dibukakan hatinya. Dia berdoa, semoga hidupnya selalu dilindungi Tuhan. Dia berdoa, Tuhan sudi mengangkat sedikit beban yang menimpa hidupnya selama ini. Dia berdoa dengan setulus hati, walaupun dia jarang shalat.

Malam semakin membungkus keheningan masjid ini. Seorang penjaga masjid hendak menghampirinya. Belum lagi penjaga masjid itu menegurnya, nenek Mardiyem segera melangkah dari teras masjid. Mengambil karung beras yang berisi botol dan gelas plastik bekas dan menggembolnya di punggung yang semakin membungkuk. Nenek Mardiyem pulang lebih awal dari kemarin. Kakinya tak sanggup lagi melangkah jauh. Badannya ingin segera merebah di lantai pelataran toko beras Pak Sudirtoyang dia tahu betapa keras, kotor, dan dinginnya alas tidurnya itu...

***

Pagi masih sangat perawan. Toko beras Pak Sudirto pun belum buka. Pagi ini nenek Mardiyem akan menepati janjinya kemarin. Bertemu Ibu Endang di pertigaan lampu merah, seberang restoran dealer motor terkemuka. Jaraknya lumayan jauh untuk ukuran kakinya yang sudah ringkih, sekira tiga ratus lima puluh meter dari toko beras Pak Sudirto. Namun, demi janji, dia pun bergegas. Dia juga ingin membuktikan ucapan Ibu Endang, yang katanya ada TPA baru. Bagi mereka, TPA adalah ladang uang. Kubangan duit yang akan mereka keruk sepuas-puasnya. Dengan tergopoh-gopoh, nenek Mardiyem mengawali langkah ke rumah Mbak Darmi. Seperti biasa, menyetor hasil pulungan kemarin dan menerima upah.

Setelah mendapat uang dari Mbak Darmi, nenek Mardiyem lalu bersemangat melangkahkan kaki ke pertigaan lampu merah. Menemui Ibu Endang di sana. Dari kejauhansamar-samardia sudah bisa melihat sosok Ibu Endang yang melambai-lambaikan tangannya. Ibu Endang juga telah siap dengan perlengkapan memulungnya: keranjang bambu dan besi pengait. Anaknya yang masih batita digendongnya dengan sehelai kain.

“Nenek, buruan! Nanti keburu banyak orang di sana!” teriak Ibu Endang.

Nenek Mardiyem berlari kecil. Sekuat-kuat tenaganya, dia berlari. Sesampainya di depan kios rokok kecil, tempat Ibu Endang menunggunya, segera tangan kanannya ditarik Ibu Endang.

“Ayo, cepet, nek!” perintah Ibu Endang tak sabar.
“Sabar...sabar, nak. Nenek cape...” keluh nenek Mardiyem masih terengah-engah.
“Ayo, nek, nanti rejeki kita dipatok ayam...” celoteh Ibu Endang. Tangannya masih memegang erat tangan nenek Mardiyem.

Sesampainya di depan TPA, mereka melihat para pemulung lain sudah berada di tengah ladang sampah yang melimpah. Memungut dan mengkait barang-barang rongsok di sana. Ibu Endang dan nenek Mardiyem pun tak ketinggalan bersemangat. Mereka lalu ngeluyur ke tengah timbunan sampah. Betapa senang mereka menemui gunungan sampah.

Mobil truk sampah baru saja tiba. Siap menuangkan kembali sampah-sampah yang mereka ambil dari beberapa lingkungan di kota ini. Mobil itu berhenti tepat di belakang nenek Mardiyem yang sedang asyik memulung botol dan gelas plastik.

“Nenek awas!” teriak Ibu Endang yang memulung tak jauh dari nenek Mariyem.

Nenek Mardiyem menoleh ke belakang. Terkejut. Dan dia pun tak bisa berbuat apa-apa. Supir mobil truk pengangkut sampah mendengar teriakan Ibu Endang, dan melongok ke belakang melalui jendela mobil, tapi dia sudah terlanjur menarik platuk untuk menumpahkan sampah-sampah yang ada di punggung mobil. Sampah-sampah itu pun mengubur nenek Mardiyem hidup-hidup. Kini, dia tinggal jasad. Dia tertimbun di antara sampah-sampah, termasuk gelas-gelas plastik yang menjadi sumber uang baginya. Sekarang, dia adalah manusia dalam gelas plastik...

Lubang Buaya, 17-22 Juli 2010

Selasa, 30 Maret 2010

TEKA TEKI EINSTEIN

Dah lama gak nge blog lg, msh ingt gak ya. hehehe.

Sya bru dapt artikel tentang teka-teki einstein yang dibuat 1 abad yang lalu. Dalam teka teki tersebut Einstein bilang kalo hanya 2% penduduk dunia yang bisa memecahkannya. Td mlm sya berhasil memecahkannya dalam 120 menit. tp gak tau benar atau salah. mohon dicoba yang lain ya.... ntar hasilnya di posting aja. yang paling banyak jawabannya, tu yang benar.

TEKA-TEKI EINSTEIN

Teka-teki ini tidak mengandung trik, hanya murni logika.

Ada 5 buah rumah yang masing-masing memiliki warna berbeda. Setiap rumah dihuni satu orang pria dengan kebangsaaan yang berbeda-beda.

Setiap penghuni rumah menyukai jenis minuman tertentu, merokok satu merk rokok tertentu dan memelihara satu jenis hewan tertentu.

Tak satupun dari kelima orang itu yang minum minuman yang sama, merokok satu merk rokok yang sama, dan memelihara hewan yang sama seperti penghuni yang lain.

PERTANYAAN : Siapakah Yang memelihara IKAN?

PETUNJUK:

Orang Inggris tinggal di dalam rumah berwarna merah

Orang Swedia memelihara anjing

Orang Denmark senang minum teh

Rumah berwarna putih terletak tepat disebelah kiri rumah berwarna coklat

Penghuni rumah berwarna putih senang minum kopi

Orang yang merokok PallMall memelihara burung

Penghuni rumah yang terletak ditengah-tengah senang minum susu

Penghuni rumah berwarna kuning merokok Dunhill

Orang Norwegia tinggal di rumah paling pertama

Orang yang merokok Marlboro tinggal di sebelah orang yang memelihara kucing

Orang yang memelihara kuda tinggal di sebelah orang yang merokok Dunhill

Orang yang merokok Winfield senang minum bir

Di sebelah rumah berwarna biru tinggal orang Norwegia

Orang Jerman merokok Rothmans

Orang yang merokok Marlboro bertetangga dengan orang yang minum air.

Albert Einstein menyusun teka-teki ini pada abad lalu.

Dia menyatakan, 98% penduduk dunia tidak mampu memecahkan teka-teki ini.

Apakah anda termasuk yang 2%?

lambah.net milis (Attar Malaka)

Jumat, 22 Mei 2009

MENGINSTAL WINDOWS XP


































































































































































Untuk menginstal windows XP, sebaiknya dipersiapkan dahulu beberapa peralatan minimum yang dibutuhkan. Berikut ini adalah daftar kebutuhan sebelum menginstal windows XP:



















  1. Processor dengan kecepatan 400 MHZ











  2. RAM dengan kapasitas 64 MB











  3. Hard disk kosong 3 GB












  4. CD ROM standart










  5. CD Master Windows XP












  6. VGA 2 MB




















  1. Setting BIOS











  2. Sebagai tahap Sebelum menginstal windows XP, atur settingan BIOS pada Boot Sequence sehingga CD ROM sebagai First Boot Device, masukkan CD Master Windows XP, simpan setting BIOS dan restart komputer anda.













  3. Tekan tombol enter ketika muncul tulisan “Press Any Key to boot from CD…” seperti gambar berikut:
















  4. Proses berikutnya adalah pengenalan Hardware yang ada di komputer tersebut















  5. Berikutnya adalah pilihan untuk menginstal yang baru, memperbaiki yang sudah ada atau keluar dari sistem instalasi. Tekan ENTER untuk menginstal













  6. Berikutnya adalah menganalisis kapasitas hardisk yang tersedia












  7. Selanjutnya adalah pertanyaan Lisensi dan tekan F8 untuk melanjutkan















  8. Kemudian muncul halaman untuk mempartisi hardisk, tekan C untuk membuat partisi















  9. Tentukan ukuran dengan mengetik besar kapasitasnya, (1000 MB = 1GB) dalam hal ini langsung saja tekan ENTER untuk menggunakan semua kapasitas Hardisk yang ada.























  10. Selanjutnya akan terlihat 1 partisi aktif serta sisa hardisk 8 MB. Untuk menghapus partisi, tekan D























  11. Selanjutnya tekan L untuk benar-benar menghapus partisi























  12. Kemudian tekan C kembali untuk membuat partisi























  13. 12. Selanjutnya tentukan besar kapasitas partisi (dalam hal ini isi dengan 10000 yang berarti sama dengan 10 GB)























  14. Turunkan panah ke bawah sekali, kemudian tekan C untuk membuat partisi ke dua























  15. Langsung tekan Enter untuk menggunakan sisa hardisk yang ada























  16. Berikutnya, naikkan panah ke atas sekali (Drive C akan terseleksi), kemudian tekan ENTER untuk menginstal pada Drive C tersebut























  17. Selanjutnya muncul pilihan memformat partisi C, pilih yang urutan ke tiga dan tekan ENTER























  18. Berikutnya adalah proses memformat Drive C























  19. Selanjutnya adalah proses mengcopy file dari CD ROM ke Partisi C























  20. Selanjutnya komputer akan restart otomatis, dan jangan tekan apapun serta tunggu sampai muncul tampilan seperti berikut ini























  21. Klik CUSTOMIZE, kemudian klik kembali pada kolom “English (United States)” cari dan Klik Indonesia dan lakukan hal yang sama pada kolom dibawahnya, kemudian klik OK dan Next.























  22. Isi nama Pemilik komputer dan Organisasinya, Klik NEXT























  23. Masukkan Serial Number Windows XP yang biasa terdapat pada CD Master Windows XP, klik NEXT























  24. Masukkan Nama komputer, dan isi password bila dibutuhkan, KLik NEXT























  25. Settinglah hari, tanggal, bulan dan Tahun serta Jam pada halaman berikut, Klik NEXT























  26. Selanjutnya, proses penginstalan kembali berjalan























  27. Jika muncul halaman seperti di bawah ini, klik NEXT,























  28. Selanjutnya Klik NEXT kembali. Kedua halaman ini adalah untuk kepentingan LAN























  29. Selanjutnya proses penginstalan akan kembali berjalan dan tunggu hingga komputer restart, dan jangan tekan apapun hingga muncul halaman seperti di bawah ini dan tekan OK























  30. Tekan OK sekali lagi, kedua halaman tadi adalah keterangan setting VGA























  31. Selanjutnya muncul halaman berikut, dan tunggu























  32. Berikutnya muncul halaman selamat datang dan tekan NEXT























  33. Pada halaman selanjutnya klik “No, Not at this time” kemudian NEXT























  34. BErikutnya klik SKIP dan Klik NEXT























  35. Selanjutnya isi nama pengguna komputer, Klik NEXT























  36. Terakhir Klik Finish























  37. Tampil Desktop Komputer anda, Penginstalan Selesai






















Senin, 16 Maret 2009

TUGAS KULIAH INSTALASI JARKOM


Mengenal Hardware Komputer
1. Definisi Komputer

Kata komputer berasal dari bahasa Latin yaitu Computare yang artinya menghitung. Dalam bahasa Inggris disebut to compute. Secara definisi komputer diterjemahkan sebagai sekumpulan alat elektronik yang saling bekerja sama, dapat menerima data (input), mengolah data (proses) dan memberikan informasi (output) serta terkoordinasi dibawah kontrol program yang tersimpan di memorinya.Sistem computer terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Hardware, Software dan Brainware, yang saling bekerja sama sehingga computer menjadi bermanfaat dan dapat digunakan. Untuk lebih mudah mengenal System computer, perhatikanlah bagan berikut:











Brainware
Brainware adalah Operator computer atau User atau Orang yang memakai computer tersebut.
Software
Software (Perangkat Lunak) adalah Program atau instruksi yang dapat dipahami oleh Brainware dan Hardware. Jadi ilustrasinya adalah, untuk dapat mengoperasikan Hardware, seorang Brainware harus mengetahui apa perintah atau instruksi yang dikenali oleh Hardware. Untuk mengatasi hal ini, diciptakanlah software sebagai penterjemah atau penghubung antara Brainware dan Hardware.
Hardware
Hardware (Perangkat Keras) adalah Peralatan yang dapat dilihat dan dipegang langsung oleh Brainware. Terdiri dari Alat Input, Alat Proses, Alat Output dan Storage. Penjelasan mengenai Hardware lebih lengkapnya dapat dilihat pada Bagian-bagian Komputer.

1. Bagian-bagian Komputer
Komputer terdiri dari empat bagian utama yaitu: Input Device, CPU, Output Device dan Storage, Semuanya saling terhubung dan mempengaruhi. Lebih jelasnya, perhatikanlah bagan Hardware berikut:















Alat Input (Input Device)
Alat input adalah alat yang berfungsi memasukkan atau menginput data yang akan diproses maupun perintah untuk dijalankan oleh alat proses. Yang termasuk alat input adalah: Keyboard, Mouse, Scanner, Joystick, dll.
Alat Proses (CPU)
CPU (Central Processing Unit) adalah alat yang bertugas mengolah inputan data menjadi informasi sesuai kebutuhan. Alat ini sering diistilahkan sebagai “otak” pada computer. Selain bertugas untuk mengolah data yang diinputkan, alat ini juga bertugas mengawasi Hardware lainnya (Control). Setiap terjadi crash atau trouble, maka alat ini akan memberitahukan User melalui software. Yang termasuk CPU adalah Prosesor contohnya, Intel Pentium 4, AMD Athlon, dll.
Alat Output (Output Device)
Alat Output adalah alat yang berfungsi menampilkan atau mengeluarkan informasi hasil olahan CPU. Misalnya, untuk menampilkan sementara data hasil olahan CPU, maka digunakan Monitor atau In Focus. Untuk menampilkan data dalam bentuk Print Out, maka digunakan Printer. Untuk mengeluarkan data suara atau musik, maka digunakan Speaker.
Storage (Media Penyimpanan)
Media penyimpanan adalah tempat yang digunakan untuk menyimpan data hasil olahan CPU, yang mungkin masih dibutuhkan. Media penyimpanan secara umum ada dua macam yaitu RAM (Memori) dan Hard disk. RAM hanya bekerja pada saat computer hidup, jadi ketika computer mati, maka semua data atau perintah yang tersimpan didalamnya akan terhapus atau hilang. Sedangkan hard disk bersifat permanent. Setiap data yang disimpan di dalamnya akan tersimpan selama tidak dihapus secara manual.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah sebagian hardware computer yang umumnya telah diketahui, yaitu:
Procesor
Sering disebut sebagai Otaknya computer, karena semua instruksi atau perintah dikerjakan oleh hardware yang satu ini. Secara umum terdiri dari 3 unsur yaitu ALU (Arithmatic Logic Unit), CU (Control Unit) dan Register. ALU berfungsi sebagai pelaksana setiap instruksi yang diberikan. Sedangkan CU lebih kepada pengawasan hardware yang lain dan register adalah memori internal yang dimiliki processor. Satuan kapasitasnya adalah GHz. Contoh Procesor adalah Intel Pentium 1,2,3,4 dan Dual Core serta yang terbaru Quad Core. Juga AMD Athlon, Duron, Barton dll.



Mainboard / Motherboard
Disebut sebagai Mainboard karena memang berbentuk papan persegi, tetapi disinilah diletakkan Procesor, Memori, Switch Power dan kabel data. Semua hardware terhubung secara langsung dengan Mainboard. Terdapat juga port Parallel, Serial, USB, PS2 dan VGA untuk menghubungkan dengan Input dan Output Device yang lain. Juga terdapat Slot PCI tambahan, apabila ingin menambahkan hardware lain seperti Modem, TV Tuner internal, dan LAN card. Yang termasuk Mainboard diantaranya adalah ASUS P4VP-MX, INTEL 965, ABIT dll.













RAM (Random Access Memory)
Alat ini adalah storage utama (Primary) dari sebuah computer. Semua data dan instruksi yang sedang diproses, disimpan di dalamnya. Semakin besar Kapasitasnya, maka semakin membantu kinerja Procesor. Satuan kapasitasnya adalah MB. RAM bersifat Volatile, hanya bekerja apabila ada arus listrik yang mengalirinya. Jadi apabila ketika sedang memproses data terjadi mati lampu, maka data dan perintah di dalam RAM pun akan hilang. Contoh RAM adalah Kingston 512 MB, RC Memory 1 GB dll.









Hard disk
Merupakan Storage atau tempat penyimpanan data pada computer. Data yang telah diproses dapat disimpan di dalamnya karena alat ini bersifat Non-Volatile. Data di dalamnya hanya akan hilang bila di hapus atau terjadi kerusakan hardware. Spesifikasinya ditentukan dengan Kapasitas GB dan kecepatannya adalah RPM. Menggunakan Interface Parallel dan Serial. Contoh hardware ini adalah Seagate SATA 160 GB 7200 RPM, Maxtor 20 GB 5400 RPM.





CD ROM Drive
CD ROM (Read Only Memory) Drive adalah media untuk menjalankan Cakram Disk yang berisi data atau software tertentu. Umumnya, Produsen Software atau Hardware menggunakan kepingan CD ini sebagai tempat untuk menyimpan data atau software mereka. CD ROM Drive hanya dapat membaca kepingan CD, tetapi tidak bisa menulisnya kembali. Untuk dapat menuliskan ke dalam kepingan CD, maka dapat digunakan CD Drive yang bertipe RW (Read-Write).

Floppy Disk Drive
Floppy Disk Drive adalah media untuk membaca disket floppy 3,5 Inch. Pernah mengalami masa kejayaan pada waktu permulaan keluarnya system operasi DOS, hingga ditemukannya teknologi Flash disk. Kemampuan penyimpanan data hanya 1,44 Mb, Rentan kerusakan dan Virus. Saat ini hampir tidak digunakan sama sekali.




NIC
NIC (Network Interface Card), dari namanya, dapat diketahui bahwa alat ini yang menghubungkan computer kepada Network (jaringan). Network adalah sekumpulan computer yang saling terhubung dan dapat berkomunikasi satu sama lain seperti berbagi resource, data dan menggunakan beberapa fasilitas bersamaan (sharing).
VGA Card
VGA (Video Graphic Adapter) Card ini adalah alat yang digunakan untuk menghasilkan output ke monitor dengan kualitas bagus. VGA diukur dengan satuan Mb, semakin tinggi nilai VGA (misalnya 512 Mb) maka semakin bagus tampilan pada monitor.
Sound Card
Sesuai dengan namanya, alat ini berfungsi untuk mengeluarkan Output Audio dari computer menuju speaker. Alat ini juga memiliki satuan Mb. Semakin besar ukuran kapasitasnya, maka suara yang dikeluarkan juga semakin jelas dan jernih.
Casing
Alat ini memang hanya sebagai pelindung dari hardware di atas. Semua hardware di atas dipasang dan disusun di dalamnya, sehingga terhindar dari benturan atau goncangan juga debu. Tetapi dalam alat ini juga terdapat Power Supply yang merupakan sumber tenaga listrik untuk semua hardware di dalamnya. Terdapat juga Power dan Reset Switch yang digunakan untuk menyalakan atau me-Restart computer.

Kamis, 05 Maret 2009

Kuliah Design Grafis


hari ini adalah hari yang spesial buat ku, karena pd hr ini, aku berhasil melakukan tugas yg disuruh dosen. Biar tau aja, Design Grafis adalah kelemahan ku... Sampai hari ini merupakan materi yang paling tidak aku kuasai.

aku jg bisa bntu tman. hehehe. memang sepele, tapi cukup buat seru!!!!

ini tugas nya....

Senin, 16 Februari 2009

VIRUS

Ini tulisan kedua sepanjang sejarah bergerilya di BLOGGER

cm mo bilang, bagi siapa-siapa yang terserang virus, tenang aja. banyak cara ngatasinya.

Di Asumsikan bahwa komputer yang kena virus, berarti tidak terpasang anti virus atau tidak terupdate.

Diantaranya, pake aja PCMAV terbaru yang dilengkapi dengan persenjataan terbarunya.