Rabu, 10 Juli 2013

Prosedur Pengurusan Sertifikat Tanah

Pada prinsipnya pembuatan sertifikat tanah terdiri dari 3 tahap :

Tahap 1. Pengurusan kelengkapan dokumen untuk pendaftaran seperti : - Foto copy KTP & Kartu Keluarga - Akta Jual Beli - Foto copy girik yang dipegang - Dokumen tambahan dari kelurahan

Jadi pertama bisa mungkin konsultasi dengan BPN dulu (toh BPN yang membuat sertifikat bukan kelurahan), bawa dokumen-dokumennya dan tanyakan dokumen apa saja yang kurang.

Tahap 2. Melengkapi dokumen dari kelurahan Tahap 3. Pendaftaran ke BPN dan membuat perjanjian untuk pengukuran tanah. Tahap 4. Finishing sertifikat oleh BPN. - See more at: http://www.rumahmax.com/BeritaProperti/33/prosedur-pengurusan-sertifikat-tanah#sthash.CCpM3ym5.dpuf

Senin, 08 Juli 2013

CARA MUDAH MENGHITUNG ZAKAT HARTA DAN PENGHASILAN



Agar tidak terjadi kebingungan, berikut perbedaannya:
•  Zakat penghasilan keluar setiap kali Anda memiliki penghasilan. Misalnya setiap sebulan sekali, besarnya 2.5% dari total penghasilan. Nishabnya rata-rata adalah jika berpendapatan total Rp3 juta per bulan.

•  Zakat mal keluar jika aset lancar Anda (tabungan, deposito, emas, reksadana, saham, ORI atau Sukuk termasuk nilai tunai asuransi) dan aset tetap yang tidak digunakan (contoh: rumah yang tidak ditempati dan tidak digunakan untuk bisnis apapun) totalnya mencapai 85 gram emas (harga saat itu). Dan syarat kedua adalah aset tersebut sudah 1 tahun Hijriyah. Besar zakatnya 2.5%.

Masih bingung? Nah, saya berikan contoh ya.

Misalkan Anda berpenghasilan total Rp3 juta per bulan. Maka zakat penghasilan Anda setiap bulan adalah 2.5% x Rp3 juta = Rp75 ribu

Pada Ramadhan 1431 H Anda menghitung aset sebagai berikut:
Tabungan = Rp10 juta
Deposito = Rp10 juta
Total = Rp20 juta
Pada saat itu emas 85 gram setara dengan Rp40 juta.

Karena nishab zakat adalah harta yang umurnya sudah satu tahun, maka zakat pada 1431H dapat Anda bayarkan pada Ramadhan 1432H. Namun karena nishab Anda belum terpenuhi (aset dibawah setara 85 gram emas) maka Anda tidak wajib zakat mal.

Lalu bulan Ramadhan tahun berikutnya, Anda menghitung kembali aset Anda dan ternyata hasilnya sebagai berikut:
Tabungan = Rp30 juta
Deposito = Rp20 juta
Total = Rp50 juta
Emas 85 gram pada saat itu setara dengan Rp45 juta.

Maka, Anda wajib membayar zakat aal.
Kenapa? Karena aset yang Anda miliki sudah lebih dari setara 85 gram emas. Dan yang Anda bayarkan adalah (2.5% x Rp50 juta = Rp1,25 juta).
Uang zakat tersebut dapat Anda bayarkan pada Ramadhan 1433H.

Semoga penjelasan di atas cukup jelas, ya.

Jangan lupa ya, hitung berapa aset yang Anda miliki ,dan jika sudah mencapai nishabnya mari tunaikan zakat mal.

Sambut Ramadhan dan selamat berzakat

sumber : www.yahoo.co.id
Kaukabus Syarqiyah
Independent Financial Planner
PT. Quantum Magna
www.qmfinancial.com

Senin, 15 Oktober 2012

WEWENANG DALAM ORGANISASI



WEWENANG adalah hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar mencapai tujuan tertentu. Ada 2 pandangan mengenai sumber wewenang, yaitu :
1.      Formal, bahwa wewenang di anugerahkan karena seseorang diberi atau dilimpahkan/diwarisi hal tersebut.
2.      Penerimaan, bahwa wewenang seseorang muncul hanya bila hal itu diterima oleh kelompok/individu kepada siapa wewenang tersebut dijalankan..

Chester Bernard mendukung pandangan tersebut dengan menulis :
1.      Komunikasi dapat dipahami
2.      Dapat dipercayai bahwa hal tesebut tidak menyimpang disaat keputusannya dibuat.
3.      Secara keseluruhan, dapat diyakini bahwa hal tersebut tidak bertentangan dengan kepentingan pribadinya.
4.      Secara mental dan fisik mampu untuk mengikutinya.

Kekuasaan (power) sering sekali dicampur adukan dengan pengertian wewenang. Kekuasaan itu sendiri memiliki arti sebagai suatu kemampuan untuk melakukan hak tersebut. Ada banyak sumber dari kekuasaan itu sendiri, dan keenam sumber kekuasaan tersebut dapat diringkas sebagai berikut :
1. Kekuasaan balas – jasa.
2. Kekuasaan paksaan.
3. Kekuasaan sah.
4. Kekuasaan pengendalian informasi.
5. Kekuasaan panutan.
6. Kekuasaan ahli.

Persamaan tanggung jawab dan wewenang adalah baik dalam teori, tetapi sukar dicapai. Dapat disimpulkan, wewenang dan tanggung jawab adalah sama dalam jangka panjang, dan dalam jangka pendek, tanggung jawab lebih besar peranannya dari pada wewenang itu sendiri.
Organisasi lini adalah orang/badan usaha yang mempunyai hubungan pelapor hanya dengan satu atasan, sehingga ada kesatuan perintah. Dan organisasi staf adalah orang/badan usaha dalam struktur organisasi yang fungsi utamanya memberikan saran dan pelayanan kepada fungsi ini. Ada 2 tipe staf, yaitu:
1. Staf pribadi; sebagai pemberi saran , bantuan, dan jasa kepada atasannya.
2. Staf spesialis; sebagai pemberi saran, konsultasi, bantuan dan melayani seluruh lini serta diperlukannya keahlian khusus.
Wewenang lini adalah dimana atasan melakukanya atas bawahannya langsung. Dan wewenang staf adalah suatu hak yang dipunyai oleh para staf atau para spesialis untuk memberikan saran, bantuan, konsultasi kepada personalia lini.

WEWENANG Lini,Staff dan Fungsional
Wewenang lini, staf dan fungsional
1.      Wewenang lini, adalah wewenang dimana atasan melakukannya atas bawahannya langsung. Yaitu atasan langsung memberi wewenang kepada bawahannya, wujudnya dalam wewenang perintah dan tercermin sebagai rantai perintah yang diturunkan ke bawahan melalui tingkatan organisasi.
2.      Wewenang staf, adalah hak yang dipunyai oleh satuan-satuan staf atau para spesialis untuk menyarankan, memberi rekomendasi, atau konsultasi kepada personalia ini. Kualifikasi yang harus dipenuhi oleh orang yang duduk sebagai taf yaitu dengan menganalisa melalui metode kuisioner, metode observasi, metode wawancara atau dengan menggabungkan ketiganya. Baishline mengajukan enam pokok kualifikasi yang harus dipengaruhi oleh seorang staf yaitu :
  1. Pengetahuan yang luas tempat diamana dia bekerja
  2. Punya sifat kesetiaan tenaga yang besar, kesehatan yang baik, inisiatif, pertimbangan yang baik dan kepandaian yang ramah.
  3. Punya semangat kerja sama yang ramah
  4. Kestabilan emosi dan tingkat laku yang sopan.
  5. Kesederhanaan
  6. Kemauan baik dan optimis

Kualifikasi utama yaitu memiliki keahlian pada bidangnya dan punya loyalitas yang tinggi. Konsekkuensi organisasi yang menggunakan staf yaitu menambah biaya
administrasi struktur orgasisasi menjadi komplek dan kekuasaan, tanggung jawab serta akuntabilitas. yaitu memiliki keahlian pada bidangnya dan punya loyalitas yang tinggi. Wewenang staf Yaitu hak para staf atau spesialis untuk menyarankan, memberi rekomendasi konsultasi pada personalia yang tinggi, Hal yang perlu diperintahkan dalam mendelegasikan suatu kegiatan kepada orang yang ditujuk yaitu:
  1. Menetapkan dan memberikan tujuan serta kegiatan yang akan dilakukan
  2. Melimpahkan sebagian wewenangnya kepada orang yang di tunjuk
  3. Orang yang ditunjuk mempunyai kewajiban dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan agar tercapainya tujuan.
  4. Menerima hasil pertanggung jawaban bawahan atas kegiatan yang dilimpahkan.

3.      wewenang staf fungsional, adalah hubungan terkuat yang dapat dimiliki staf dengan satuan-satuan lini.
Chester Bamard mengatakan bahwa seseorang bersedia menerima komunikasi yang bersifat kewenangan bila memenuhi:
a.       Memahami komunikasi tersebut
b.      tidak menyimpang dari tujuan organisasi
c.       tidak bertentangan dengan kepeningan pribadi
d.      Mampu secara mental dan fisik untuk mengikutinya

DELEGASI WEWENANG
Delegasi adalah pelimpahan wewenang dan tanggung jawab formal kepada orang lain untuk melaksanakan kegiatan tertentu. Delegasi wewenang adalah proses di mana para manajer mengalokasikan wewenang ke bawah kepada orang-orang yang melapor kepadanya
Pedoman Klasik Untuk Delegasi Efektif :
  1. Prinsip scalar, dalam proses pendelegasian harus ada garis wewenang yang jelas karena akan membuat anggota organisasi lebih mudah untuk mengetahui :
·        Kepada siapa dia dapat mendelegasikan
·        Dari siapa dia akan menerima delegasi
·        Kepada siapa dia harus memberikan pertanggung jawaban
2.      Prinsip kesatuan perintah, menyatakan bahwa setiap bawahan dalam organisasi seharusnya melapor hanya kepada seorang atasan
3.      Tanggung jawab dan akuntabilitas, menyatakan bahwa :
·        Agar organisasi dapat menggunakan sumber dayanya dengan lebih efisien
·        Konsekuensi wajar peranan tersebut adalah bahwa setiap individu dalam organisasi untuk melaksanakan tugas yang dilimpahkan kepadanya secara efektif
·        Bagian penting dari delegasi tanggung jawab dan wewenang adalah akuntabilitas penerimaan tanggung jawab dan wewenang berarti individu juga setuju untuk menerima tuntutan pertanggung jawaban pelaksanaan tugas
  
Penaggulangan Hambatan-Hambatan Delegasi
Louis Allen mengmukakan 6 teknik khusus untuk membantu manajer melakukan delegasi dengan efektif :
1. Tetapkan tujuan
2. Tegaskan tanggung jawab dan wewenang
3. Berikan motivasi kepada bawahan
4. Meminta penyelesaian kerja
5. Berikan latihan
6. Adakan pengawasan yang memadai


nb : Dibuat untuk menyelesaikan tugas manajemen
      Dikutip dari berbagai sumber.

Selasa, 26 Juni 2012

MEMBERSIHKAN CATRIDGE IP 2770

Tulisan ini sekedar berbagi pengalaman dengan rekan-rekan sekalian, yang pernah mengalami hal yang sama dan ingin mencoba salah satu solusi.

Saya meminjam printer kantor untuk mencetak dokumen kerja dirumah. Setelah 2 malam saya gunakan dengan lancar, saya tidak pernah menghidupkan kembali printer tersebut selama kira-kira 1 minggu. Pada malam ke 8, saya mencoba untuk mencetak kembali, namun printer tersebut sudah tidak  mengeluarkan tinta. Saya menyuntikkan kembali tinta ke catridge (Belum di INFUS), kemudian melakukan cleaning head sebanyak 3 kali, dan tidak berhasil, melakukan deep head cleaning sebanyak 3 kali, dan tidak berhasil.

Malam berikutnya, saya lakukan hal yang sama seperti malam sebelumnya dan tidak berhasil. Esok harinya saya nekat untuk membuka catridge tersebut, mengambil busanya, merendamnya di air panas, dan mencucinya hingga berwarna abu-abu. demikian juga dengan ujung head catridgenya, saya rendam dengan air panas (tidak lebih sedalam 5 mili / tidak mengenai elemen lain). kemudian bagian dalam catridge juga saya cuci dengan air panas.

Setelah selesai dengan proses tersebut, saya jemur catridge beserta busanya sampai kering. setelah kering saya pasang seperti semula, dan tutup catridge hanya dipasang begitu saja (tidak di lem kembali). Setelah di isi tinta sebanyak setengah spet suntik, saya lakukan proses cleaning head 2 kali, dan mulai menampakkan hasil (masih putus-putus). Kemudian saya deep head cleaning 2 kali, ternyata setelah dicoba, printer sudah dapat mencetak kembali seperti 9 malam yang lewat.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian......

Selasa, 11 Oktober 2011

MEMBUAT DAFTAR ISI YANG RAPI

CARA MEMBUAT DAFTAR ISI YANG RAPI ADALAH :

1. Pastikan settingan ukuran di Microsoft word adalah CM. dengan cara klik tools, options akan muncul kotak dialog seperti di bawah ini:



kemudian pilih general dan rubah ke centimeter di text berwarna biru;

2. selanjutnya klik format, tabs, sehingga muncul kotak dialog seperti berikut:


isi tab stop position dengan 13,5 cm, kemudian klik center, kemudian klik 2......... , kemudian klik set, sehingga akan muncul tulisan 13,5 cm dalam kotak yang besar.

kemudian atur lagi seperti berikut ini:


ketik 14 cm, klik right, klik 1 None, klik set sehingga muncul 14 cm dibawah 13,5 cm yang pertama. kemudian klik ok.

kemudian ketik di microsoft word seperti gambar berikut:


KETIK

DAFTAR ISI
tekan enter 2 x

ketik
PENDAHULUAN
kemudian tekan tombol TAB di KEYBOARD 2 X, kemudian ketik halamannya contoh 1.
tekan enter 1x

ketik
KATA PENGANTAR
kemudian tekan tombol TAB di KEYBOARD 2 X, kemudian ketik halamannya contoh 2.
tekan enter 1x

DAN SELANJUTNYA SEPERTI CONTOH.

SEMOGA BERMANFAAT YA.....

TERIMA KASIH

Senin, 13 September 2010

TIPS MENGHINDARI HIPNOTIS

Berikut ini petunjuk untuk menghindari dan mengatasi kejahatan Hipnotis atau “gendam” :

1. Jangan membiarkan pikiran kosong ketika berada di daerah umum. Pikiran kosong dapat mengakibatkan gerbang telepathic terbuka, sehingga pihak lain dapat dengan mudah menyampaikan pesan secara telepathic.

2. Waspadalah jika tiba-tiba timbul rasa kantuk yang tidak wajar, ada kemungkinan bahwa seseorang yang bermaksud negatif sedang melakukan “telepathic forcing”.

3. Bagi mereka yang memiliki kebiasaan “latah”, sebaiknya jangan bepergian ke tempat umum tanpa teman. Mereka yang mempunyai kebiasaan “latah” cenderung memiliki gerbang bawah sadar yang mudah dibuka paksa dengan bantuan kejutan (Shock Induction). Hal yang sama juga berlaku bagi mereka yang mudah terkejut.

4. Jangan mudah panik jika tiba-tiba ada beberapa orang yang tidak dikenal mengerumuni anda untuk suatu alasan yang tidak jelas. Sekali jangan mudah panik ! Karena rasa panik akan mempermudah terbukanya gerbang bawah sadar anda!

5. Jangan mudah panik jika tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu anda ! Usahakan agar pikiran dan panca indera anda tetap aktif ke seluruh lingkungan ! Jangan terfokus pada ucapan-ucapan orang yang menepuk anda ! Segera berpindahlah ke daerah yang lebih ramai !

6. Jika secara tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, dada anda terasa sesak, dan diikuti dengan perut agak mual, dan kepala sedikit pusing, waspadalah karena mungkin ada seseorang tengah mengerahkan energi gendam ! Segera lakukan “grounding”, yaitu meniatkan membuang seluruh energi negatif ke bumi (cukup visualisasi).

7. Jika terjadi hal-hal yang mencurigakan, segera sibukkan pikiran anda, agar tetap berada di frekwensi yang mengakibatkan efek Hipnotis tidak dapat bekerja ! Antara lain dengan : berdoa dalam hati, menyanyi dalam hati, atau memikirkan hal-hal yang berat !

8. Jika ternyata anda mulai merasa memasuki suatu “kesadaran berbeda” dari biasanya, mungkin anda sudah mulai terpengaruh oleh Hipnotis. Jika anda merasakan hal ini, maka segera niatkan dalam hati : “Dalam 3 hitungan, saya akan kembali sadar dan normal sepenuhnya ….”, kemudian segera hitung dalam hati : “Satu …, dua, … tiga”.

9.. Akhirnya, tanamkan terus menerus di dalam diri anda, bahwa Hipnotis tidak akan bekerja bagi mereka yang menolaknya ! Hal ini juga berlaku untuk ilmu gendam

Kisah Renungan

Oleh: Fandy Hutari

Sepasang suami istri menangisi mayat perempuan tua di antara timbunan sampah. Mereka tak menyangka, setelah menyesalkan perbuatannya dan mencari ke mana-mana, akhirnya orang tua dan mertua mereka sudah tak bernyawa di tempat yang sangat tidak layak: timbunan sampah. Sungguh mereka menyesali semua perbuatannya...

***

Malam sudah sangat larut. Sore tadi hujan baru saja berhenti setelah seharian turun lebat. Menyisakan malam yang begitu lembap. Angin yang mendesis menusuk-nusuk tubuh ringkih yang dibungkus kulit keriput nenek Mardiyem. Tulang belulangnya yang telah rapuh dimakan usia, dipaksa melawan kebekuan malam ini untuk bertahan hidup. Demi sesuap nasi dan seteguk air. Di saat orang-orang sudah terlelap, dia masih terjaga. Nenek Mardiyem masih mengais botol dan gelas plastik bekas di selokan, trotoar, hingga di gang-gang kecil yang digenangi air hujan. Lumayan, sepanjang hari ini barang-barang yang dianggap kebanyakan orang tidak berguna itu telah terkumpul satu karung beras penuh. Karung beras yang digembol di punggung bungkuknya ke mana-mana. Dia memperlakukan karung beras itu ibarat menggendong anak kecil. Di mata dia, barang-barang ini adalah emas. Adalah uang. Adalah hidup...

***

Pukul 11.20 WIB, waktunya untuk pulang. Dia berjalan gontai di trotoar. Memanggul derita seorang diri. Langkahnya dipayungi lampu-lampu jalanan yang reduphidup dan mati bergantian. Sudah terasa cukup baginya sekarung penuh berisi botol dan gelas plastik di punggungnya. Malam ini, jalanan sepi belaka. Tak ada seorang pun yang melintas di trotoar yang dia jejaki. Hanya ada satudua kendaraan saja yang melintas. Memecah genangan air di jalanan. Nenek Mardiyem pun kecipratan air yang dipecah roda mobil. Tak ada umpatan dari bibirnya. Dia tak bakat mengumpat orang. Boleh dibilang, dia seorang nenek yang pandai membungkus kepedihannya sendiri di dalam senyum.

Lantai pelataran toko yang sudah tutup, menyambut kelelahannya seharian bekerja di jalanan. Tanpa perasaan jijik, dia merelakan tubuhnya tidur di ubin yang kotor. Hanya beralas kardus bekas. Karung beras yang berisi barang-barang pulungannya, dia senderkan di pintu garasi toko yang berwarna hijau lumut. Bau busuk yang menyeruak dari tempat sampah di sebelahnya, tak pernah lagi tercium oleh hidungnya. Dia sudah kebal dengan bau-bauan itu. Sekebal dia menjalani kehidupan yang terasa berat sekali bagi kebanyakan orang.

Ya, di pelataran toko inilah dia tidur dan berteduh. Pelataran toko ini sudah menjadi semacam rumah bagi dia. Ini merupakan toko beras milik Pak Sudirto. Pak Sudirto sendiri tinggal bersama keluarganya di lantai dua toko ini. Dua bulan lalu, Pak Sudirto mengizinkan nenek Mardiyem untuk berteduh dan melepas lelah di pelataran tokonya. Mungkin dalam pikiran Pak Sudirto, nenek Mardiyem juga bisa turut menjaga toko miliknya. Atau istilah kasarnya jadi anjing penjaga. Tentu saja di dalam toko ini tertimbun beras berkarung-karung, karena ini memang toko beras. Tapi, di luar ada seorang nenek yang setiap hari berjuang demi beras yang tak seberapa. Ironis. Sebelum ‘menetap’ di sini, nenek Mardiyem tidur di sembarang tempat. Dia juga pernah punya rumah gubuk berdinding kardus bekas di kolong jembatan, sebelum digusur Satpol PP.

Sebetulnya, dia tak harus berkelana menggelandang seperti ini. Karena dahulu dia tinggal serumah bersama anak perempuannya, Martini, yang menikah dengan seorang direktur di pabrik kondom bernama Sudrajat. Menantunya ini bisa dibilang orang terpandang di lingkungan tempatnya tinggal. Rumahnya pun bak istana. Namun, entah setan apa yang merasuk tubuh menantunya. Suatu hari, menantu dan anaknya merencanakan untuk memasukkan nenek Mardiyem ke panti jompo. Tapi, niat itu didengar oleh nenek Mardiyem. Dan, akhirnya dia membuat keputusan untuk minggat dari rumah menantu dan anak tunggalnya. Meninggalkan mereka kurang lebih satu tahun lalu. Hidup bagai sampan yang terombang-ambing sendirian di sini. Di jalanan! Nenek Mardiyem juga termasuk perempuan yang terus-menerus gagal membina rumah tangga. Dia tercatat kawin-cerai sebanyak lima kali. Dari pernikahan-pernikahannya itu, dia memiliki tujuh orang anak, termasuk Martini. Tapi, tak seorang pun yang peduli dengan nenek Mardiyem. Hanya Martini yang bersedia ‘menampungnya’.

***

Sinar matahari mengganggu tidur nenek Mardiyem. Silau. Matanya seketika membuka. Hari telah kembali pagi. Perlahan, dia bangun dan duduk di lantai pelataran toko ini. Pintu garasi toko pun dibuka Pak Sudirto dari dalam.

“Baru bangun, nek?” kata Pak Sudirto. Pertanyaan ini selalu dia lontarkan setiap pagi kepada nenek Mardiyem.
“Iya...” jawab nenek Mardiyem. Jawaban yang selalu berulang setiap pagi, seperti kaset yang diputar terus menerus.

Lalu, Pak Sudirto kembali masuk ke tokonya. Menyapu di dalam. Pagi ini, pukul 07.00 WIB, saat anak-anak berangkat ke sekolah dan para pekerja bergegas ke kantornya masing-masing, nenek Mardiyem pun berkemas. Bukan ke sekolah atau ke kantor, tapi ke pengepul barang-barang hasil pulungannya kemarin. Dia bersiap. Merapikan lagi tumpukan botol dan gelas di dalam karung beras.

“Siap-siap nih, nek?” ujar istri Pak Sudirto yang berjalan dari dalam toko.
“Iya...” jawab nenek Mardiyem lirih.

Hampir tak terdengar suaranya. Tersamar dengan rengekan klakson angkot di pinggir jalan yang menunggu penumpang. Dia lalu menggembol kembali karung beras yang berisi barang pulungannya, dan pamit kepada Pak Sudirto dan istrinya.

“Pak, Bu...saya ke Mbak Darmi dulu ya...” pamit nenek Mardiyem.
“Oh, iya nek. Hati-hati...” jawab Pak Sudirto yang masih memegang sapu. Serta anggukkan kecil dari istrinya.

Lalu, dengan langkahnya yang lamban, nenek Mardiyem pun menyeberang jalan. Siklus kehidupan yang setiap pagi dia jalani. Pergi ke tempat pengepul barang-barang loak. Ke rumah gubuk sang pengepul, Mbak Darmi, di pinggiran kali yang sudah kotor oleh sampah yang mengambang juga bau busuk yang menyengat. Jaraknya sekitar dua ratus lima puluh meteran dari toko Pak Sudirto. Jarak yang cukup lumayan bagi nenek renta berusia enam puluh tahun ini.

Sesampainya di rumah Mbak Darmi, isi karung beras pun dikeluarkan semuanya. Kemudian, Mbak Darmi menghitung berapa uang yang pantas diberikan kepada nenek Mardiyem untuk hasil jerih payahnya seharian kemarin. Nenek Mardiyem hanya pasrah menunggu uang dari Mbak Darmi. Pasrah. Selalu pasrah setiap hari...

“Ini, nek. Dua puluh lima ribu untuk semuanya...” ujar Mbak Darmi sambil menyerahkan uang dua puluh lima ribu pecahan lima ribu.
“Iya, makasih Mbak Darmi...” ucap nenek Mardiyem menerima uang itu ikhlas. Matanya berkaca-kaca. Seolah-olah uang ini sudah dapat menggantikan peluhnya kemarin.

Dari sini, nenek Mardiyem kembali mengambil karung berasnya yang telah kosong melompong. Dan, dia akan kembali ke rutinitasnya: keliling mengumpulkan botol dan gelas plastik bekas sampai karung beras ini penuh.

***

Di pinggir jalan, nenek Mardiyem memunguti lagi botol dan gelas plastik bekas. Siang ini cuaca sangat terik. Memang sekarang cuaca tak lagi bisa ditebak. Hujan dan panas tak menentu datangnya. Keringat yang mengucur dari pipi keriputnya tampak jelas. Sesekali dia mengusapi sendiri keringat itu dengan lengan bajunya.

Sewaktu menyusuri trotoar jalan, mata nenek Mardiyem tertumbuk pada sebuah plang imbauan di pertigaan lampu merah. “Mengemis dan memberi sedekah kepada pengemis akan didenda maksimal 20 juta atau kurungan maksimal 60 hari.” Begitulah tulisan di plang itu. Lalu, dia berhenti sejenak. Duduk di trotoar jalan. Matanya yang tak lagi setajam elang, mengamati aktivitas orang-orang di sekitarnya. Lampu lalu lintas menyala merah. Mobil dan motor di hadapannya berhenti. Kemudian, entah dari mana, anak-anak kecil berbaju compang-camping mendekati mobil dan motor yang berhenti itu. Ada juga ibu-ibu yang menggendong bayi. Tangan mereka menjulur menengadah ke setiap pengemudi. Ada yang memberi. Ada pula yang mengacuhkan. Memorinya langsung berbalik ke beberapa tahun silam. Dia ingat, waktu itu menantunya pernah meludahi anak jalanan yang meminta-minta di lampu merah. Dalam diam, di kepalanya muncul sebuah pertanyaan, mengapa di kota ini ada peraturan yang mendenda dan memenjarakan siapa saja yang memberi sedekah kepada pengemis? Aneh. Bukankah seharusnya pemerintah memerhatikan mereka? Apakah ini usaha pengalihan atas ketidakmampuan pemerintah mengentaskan kemiskinan? Pikiran kritisnya menyeruak. Pikiran seorang nenek renta, ah siapa yang peduli...

“Nek...nenek Iyem!” tiba-tiba ada seorang perempuan memanggilnya dari arah belakang.

Dia menoleh.

“Iya...” katanya, membalas panggilan perempuan itu.

Yang ada di pikirannya tadi, disangka yang memanggil adalah anak perempuannya. Ternyata dugaannya salah. Perempuan yang memanggilnya juga pemulung. Satu profesi dengan dirinya. Perempuan yang berusia empat puluh tahunan ini bernama Ibu Endang. Sudah lima tahun dia menjalani profesi memulung setelah dicerai suaminya yang kawin lagi. Ibu Endang punya dua anak yang masih kecil-kecil. Dia sedikit beruntung daripada nenek Mardiyem. Ibu Endang tinggal di rumah petak semipermanen di bantaran kali bersama dua anaknya.

“Wah, nenek ke mana aja? Saya cari ke mana-mana kemarin...” kata Ibu Endang yang terbit senyum di bibirnya.
“Ada. Saya memulung di sana...” jawab nenek Mardiyem menunjuk sebuah jalan di seberang mereka.

Nenek Mardiyem lalu berdiri dari duduknya. Berusaha sopan kepada orang yang mengajaknya ngobrol.

Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

“Nenek tau nggak. Di sana, ada TPA[1] baru. Kita mulung di sana aja, gimana?” cerocos Ibu Endang masih sumringah.

Wajahnya ibarat orang yang habis mendapatkan undian rumah satu milyar. Semangat menggebu-gebu.

“Oh, gitu. Tapi, besok aja ya neng. Saya cape banget. Mau memulung dekat-dekat sini aja,” balas nenek Mardiyem sambil mengusapi lagi keringatnya yang mengucur.
“Oh, ya udah. Besok bareng aja, nek. Saya tungguin nenek di sini ya,” ujar Ibu Endang.
“Iya...Besok aja. Saya mau jalan lagi neng, mari...” pamit nenek Mardiyem dengan nada suara yang lesu.

Tenaganya seperti sangat terkuras memulung dari pagi sampai siang bolong. Guratan wajahnya tak bisa dibohongi. Nenek Mardiyem memang benar-benar butuh istirahat. Tapi, lagi-lagi demi urusan perut, dia berjalan lagi untuk memunguti botol dan gelas plastik. Meninggalkan Ibu Endang di sini sendirian. Ibu Endang pun tak lama berlalu. Menuju TPA dengan hati ceria...

***

Sewaktu menikmati makan malamnya, nasi bungkus dengan lauk satu tempe goreng,nenek Mardiyem mendengar adzan Isya yang menggema dari masjid di gang pinggir jalan. Bulu kuduknya merinding setengah mati. Tak seperti biasanya. Dia teringat, sudah lama dia meninggalkan Tuhan. Sudah lama dia tidak bersimpuh berdoa sampai berlinang air mata. Sudah lama dia tidak menjalani shalat. Nasi bungkusnya langsung dia lahap cepat-cepat. Belum habis lahapannya, seorang anak jalanan dengan ingus yang meleleh mendekatinya.

“Nek...minta nasinya, nek...” kata bocah ingusan itu dengan wajah memelas.
“Ini buat kamu. Kamu lapar ya? Ini, nenek sisakan untuk kamu makan...”ujar nenek Mardiyem seraya memberikan nasi bungkus yang tinggal setengahnya, serta tempe goreng yang juga tinggal setengah.
“Wah, makasih, nek!” sambut bocah itu gembira menerima nasi bungkus dari nenek Mardiyem.

Nenek Mardiyem hanya tersenyum. Mengusap rambut anak jalanan itu, dan segera melangkah ke sebuah masjid di gang dekat pertigaan lampu merah. Sebelum pulang, dia ingin menyampaikan keluh kesahnya kepada Tuhan. Menumpahkan seluruh unek-uneknya selama ini. Sebenarnya, tak jauh dari toko Pak Sudirto ada masjid megah yang berdiri kokoh. Konon kubahnya dari emas, dan dindingnya dari marmer pilihan. Tapi, dia hanya sekali dan terakhir berkunjung untuk shalat di sana. Ini disebabkan karena nenek Mardiyem diusir oleh penjaga masjid itu. Dia disangka tukang mencuri sandal masjid. Ah, betapa orang-orang sekarang picik. Kenapa lantaran pakaian yang kumal ini kita langsung dituduh garong. Dia juga pernah menyaksikan orang-orang berjubah putih menyerang sebuah rumah yang diduga tempat judi. Dia heran, mengapa mereka berbuat kekerasan? Mengapa tidak dibicarakn dulu baik-baik? Pikirnya waktu itu.

Di masjid ini, dia segera berwudhu, dan shalat di teras masjid. Memisahkan diri dengan jamaah lain. Bukan apa-apa, nenek Mardiyem takut mereka menjauhinya lagi, atau bahkan mengusirnya seperti yang pernah dia alami sendiri di masjid dekat toko Pak Sudirto. Selesai shalat, jamaah bubar. Mata-mata mereka memerhatikan nenek Mardiyem dengan pakaian yang lusuh masih duduk bersimpuh, tanpa mukenah. Mata-mata mereka, ya, mata-mata itu seperti menelanjanginya bulat-bulat. Tapi, nenek Mardiyem tak ambil peduli. Dia sudah terbiasa dengan tatapan-tatapan sinis orang-orang di sekitarnya. Nenek Mardiyem masih duduk bersimpuh. Kedua tangannya diangkat dan berdoa penuh hikmat. Seketika, tanpa dia sadari, butir-butir air matanya menetes jatuh ke lantai. Dia berdoa, semoga anak dan menantunya dibukakan hatinya. Dia berdoa, semoga hidupnya selalu dilindungi Tuhan. Dia berdoa, Tuhan sudi mengangkat sedikit beban yang menimpa hidupnya selama ini. Dia berdoa dengan setulus hati, walaupun dia jarang shalat.

Malam semakin membungkus keheningan masjid ini. Seorang penjaga masjid hendak menghampirinya. Belum lagi penjaga masjid itu menegurnya, nenek Mardiyem segera melangkah dari teras masjid. Mengambil karung beras yang berisi botol dan gelas plastik bekas dan menggembolnya di punggung yang semakin membungkuk. Nenek Mardiyem pulang lebih awal dari kemarin. Kakinya tak sanggup lagi melangkah jauh. Badannya ingin segera merebah di lantai pelataran toko beras Pak Sudirtoyang dia tahu betapa keras, kotor, dan dinginnya alas tidurnya itu...

***

Pagi masih sangat perawan. Toko beras Pak Sudirto pun belum buka. Pagi ini nenek Mardiyem akan menepati janjinya kemarin. Bertemu Ibu Endang di pertigaan lampu merah, seberang restoran dealer motor terkemuka. Jaraknya lumayan jauh untuk ukuran kakinya yang sudah ringkih, sekira tiga ratus lima puluh meter dari toko beras Pak Sudirto. Namun, demi janji, dia pun bergegas. Dia juga ingin membuktikan ucapan Ibu Endang, yang katanya ada TPA baru. Bagi mereka, TPA adalah ladang uang. Kubangan duit yang akan mereka keruk sepuas-puasnya. Dengan tergopoh-gopoh, nenek Mardiyem mengawali langkah ke rumah Mbak Darmi. Seperti biasa, menyetor hasil pulungan kemarin dan menerima upah.

Setelah mendapat uang dari Mbak Darmi, nenek Mardiyem lalu bersemangat melangkahkan kaki ke pertigaan lampu merah. Menemui Ibu Endang di sana. Dari kejauhansamar-samardia sudah bisa melihat sosok Ibu Endang yang melambai-lambaikan tangannya. Ibu Endang juga telah siap dengan perlengkapan memulungnya: keranjang bambu dan besi pengait. Anaknya yang masih batita digendongnya dengan sehelai kain.

“Nenek, buruan! Nanti keburu banyak orang di sana!” teriak Ibu Endang.

Nenek Mardiyem berlari kecil. Sekuat-kuat tenaganya, dia berlari. Sesampainya di depan kios rokok kecil, tempat Ibu Endang menunggunya, segera tangan kanannya ditarik Ibu Endang.

“Ayo, cepet, nek!” perintah Ibu Endang tak sabar.
“Sabar...sabar, nak. Nenek cape...” keluh nenek Mardiyem masih terengah-engah.
“Ayo, nek, nanti rejeki kita dipatok ayam...” celoteh Ibu Endang. Tangannya masih memegang erat tangan nenek Mardiyem.

Sesampainya di depan TPA, mereka melihat para pemulung lain sudah berada di tengah ladang sampah yang melimpah. Memungut dan mengkait barang-barang rongsok di sana. Ibu Endang dan nenek Mardiyem pun tak ketinggalan bersemangat. Mereka lalu ngeluyur ke tengah timbunan sampah. Betapa senang mereka menemui gunungan sampah.

Mobil truk sampah baru saja tiba. Siap menuangkan kembali sampah-sampah yang mereka ambil dari beberapa lingkungan di kota ini. Mobil itu berhenti tepat di belakang nenek Mardiyem yang sedang asyik memulung botol dan gelas plastik.

“Nenek awas!” teriak Ibu Endang yang memulung tak jauh dari nenek Mariyem.

Nenek Mardiyem menoleh ke belakang. Terkejut. Dan dia pun tak bisa berbuat apa-apa. Supir mobil truk pengangkut sampah mendengar teriakan Ibu Endang, dan melongok ke belakang melalui jendela mobil, tapi dia sudah terlanjur menarik platuk untuk menumpahkan sampah-sampah yang ada di punggung mobil. Sampah-sampah itu pun mengubur nenek Mardiyem hidup-hidup. Kini, dia tinggal jasad. Dia tertimbun di antara sampah-sampah, termasuk gelas-gelas plastik yang menjadi sumber uang baginya. Sekarang, dia adalah manusia dalam gelas plastik...

Lubang Buaya, 17-22 Juli 2010